HealthcareUpdate News

Studi Ungkap Golongan Darah Paling Berisiko Mengidap Diabetes

Studi internasional menemukan golongan darah tertentu memiliki risiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2, gaya hidup sehat tetap menjadi faktor penentu utama.

Sebuah studi ilmiah baru-baru ini kembali mengaitkan golongan darah dengan risiko terkena diabetes, terutama diabetes tipe 2 yang menjadi bentuk paling umum dari penyakit metabolik ini. Para peneliti menilai variasi golongan darah dapat berhubungan dengan perbedaan respons tubuh terhadap insulin dan proses peradangan, sehingga memengaruhi kerentanan seseorang terhadap gangguan pengendalian gula darah.

Studi yang menjadi rujukan dalam pembahasan ini berasal dari publikasi ilmiah tahun 2014 yang dimuat dalam jurnal Diabetologia, jurnal resmi milik European Association for the Study of Diabetes (EASD). Penelitian tersebut dipimpin oleh Dr. Guy Fagherazzi dan Dr. Françoise Clavel-Chapelon bersama tim peneliti dari Center for Research in Epidemiology and Population Health (INSERM), Prancis. Dalam riset berskala besar itu, para peneliti mengamati sekitar 80.000 perempuan untuk menilai keterkaitan antara golongan darah dan risiko diabetes melitus tipe 2.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan tingkat risiko antar golongan darah. Dibandingkan dengan individu bergolongan darah O negatif, mereka yang memiliki golongan darah B positif tercatat memiliki risiko hingga sekitar 35 persen lebih tinggi untuk mengembangkan diabetes tipe 2. Temuan ini menjadi dasar kesimpulan bahwa golongan darah non-O cenderung memiliki kerentanan lebih besar terhadap diabetes, meski para peneliti menegaskan bahwa mekanisme biologis yang mendasarinya masih memerlukan kajian lanjutan.

Di sisi lain, para pakar kesehatan menegaskan bahwa golongan darah bukanlah faktor penentu tunggal. Faktor lain seperti pola makan, aktivitas fisik, dan berat badan tetap memegang peran paling besar. Dr. Dyah Sulistianingsih, dokter spesialis penyakit dalam sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Dalam Universitas Indonesia, menyebut tren diabetes menunjukkan peningkatan signifikan baik secara global maupun nasional. “Sekarang terdapat peningkatan tren diabetes melitus tipe 2 yang melanda secara global sebesar 56 persen, dan banyak kasus yang terjadi pada usia muda,” ujarnya dalam suatu kesempatan.

Read More  Gelombang Panas Ekstrem di Pakistan: Ancaman Global yang Bisa Terjadi di Indonesia

Gambaran serupa juga terlihat di Indonesia. Berdasarkan laporan International Diabetes Federation (IDF), prevalensi diabetes pada orang dewasa di Indonesia mencapai sekitar 11,3 persen atau setara dengan sekitar 20,4 juta kasus pada 2024. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan beban diabetes tertinggi di kawasan Pasifik Barat.

Selain tingginya jumlah kasus, tantangan besar lainnya adalah rendahnya kesadaran diagnosis. Sejumlah kajian menunjukkan masih banyak orang yang hidup dengan diabetes tanpa menyadari kondisi tersebut, sehingga berisiko mengalami komplikasi serius akibat keterlambatan penanganan.

Dokter spesialis endokrin dan metabolik menjelaskan bahwa diabetes tipe 2 berkembang ketika tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin atau produksi insulin tidak mencukupi untuk mengontrol kadar gula darah. Kondisi ini kerap dipicu oleh obesitas, kurangnya aktivitas fisik, serta pola makan tinggi gula dan lemak. Karena itu, meskipun golongan darah tertentu mungkin memiliki kecenderungan risiko yang lebih besar, gaya hidup tetap menjadi faktor paling dominan dalam menentukan seseorang mengalami diabetes atau tidak.

Para pakar menekankan bahwa informasi mengenai golongan darah seharusnya dipahami sebagai alat peringatan tambahan, bukan alasan untuk merasa aman atau sebaliknya merasa pasti akan sakit. Masyarakat tetap dianjurkan menjaga pola makan seimbang, rutin berolahraga, mengelola berat badan, serta melakukan pemeriksaan kadar gula darah secara berkala. Deteksi dini dinilai sangat penting karena diabetes sering berkembang tanpa gejala jelas pada tahap awal.

Dengan meningkatnya jumlah penderita dan masih rendahnya kesadaran masyarakat, edukasi kesehatan perlu terus diperkuat, baik melalui fasilitas layanan kesehatan maupun kampanye publik. Pemahaman yang lebih baik tentang faktor risiko, termasuk temuan terkait golongan darah, diharapkan dapat mendorong langkah pencegahan yang lebih tepat demi menjaga kesehatan metabolik masyarakat di masa depan.

Back to top button